Halaman

Senin, 03 April 2023

dreaming #1

Suatu hari yang cerah aku sedang menaiki mobil bersama dua pengawal/bodyguard di bangku bagian depan dan bangku sebelahku. Kebetulan mobil yang kami gunakan semua adalah jenis mobil sedan sehingga satu mobil diisi oleh supir dan dua pengawal. Pengawal yang lebih senior duduk di sebelah supir sementara dia (TENTU SAJA DIA ADALAH PETER SUTHERLAND JR HAHA) duduk di sampingku.

Aku sedang melakukan perjalanan dinas bersama ayahku yang seorang Menteri Pertahanan Negara. Kebetulan ini adalah hari libur, jadi aku memang disuruh untuk ikut. Total mobil yang berangkat ada empat. Aku dan ayahku berada di mobil yang berbeda. Kata ayahku itu adalah prosedur yang harus dilakukan. 

Tiba-tiba ditengah jalan saat kami melewati sebuah perbukitan, mobil kami diserang dan dikepung oleh pasukan pembunuh bayaran dan teroris. Kami tidak tahu mereka bekerja untuk siapa, tapi sepertinya ini adalah suasana genting. Aku panik dan berusaha untuk menelpon seseorang, atau mungkin aku mencoba untuk update di instagram? Mengabari secara random pada dunia bahwa aku sedang dalam bahaya.

Kamis, 26 Januari 2023

Far-ewell

Saya belum tahu tulisan ini mau diberi judul apa, tapi yang jelas tulisan ini merupakan ungkapan kekecewaan saya sebagai seorang insan yang merasa tidak dihargai oleh manusia lain nya. Sebelumnya saya sudah pernah menyinggung tentang perpisahan dengan rekan saya berkali-kali, "Kapan ya kita perpisahan?" Tapi sekarang sudah tiga minggu sejak saya menanyakan hal itu dan jawaban nya masih sama, nobody knows.  😐

Lalu kemudian saya dapat informasi kalau acara perpisahan nya akan diadakan secara daring. 

..

..

Dalam hati sebetulnya saya tertawa, tertawa pahit. Nangis. Kenapa tega banget?

Kok gini amat? 😢

Memangnya sebegitu sibuknya sampai mereka tidak bisa berpikir dengan jernih? Apa apaan~ Saya sebetulnya sedih sekali dengan  keputusan itu, yang mana hingga beberapa jam yang lalu masih belum fix. Kemudian pagi ini saya dimintai pendapat tentang acara perpisahan bagusnya bagaimana.

Walaupun saya tau ini sia-sia dan nggak ada gunanya, tapi saya kasih deh saran dan pendapat yang ada di kepala saya: 

Selasa, 24 Januari 2023

Kaget tapi nggak "ayam ayam"

Pagi ini saya berniat untuk meminta tolong pada bapak kos untuk membersihkan halaman depan dan teras. Karena kami tidak sempat, lelah, dan juga kesed. Saya langsung chat bapak kos dan mendapat jawaban yang tidak terduga. 




Kaget. Ini adalah jawaban chat yang mengangetkan selain saya harus mendapat chat dari ibu saya yang nanyain "Sudah beli tiket pulang lebaran belum?". Kabar kematian adalah salah satu kabar duka yang tidak saya sukai. Meskipun bukan dari orang terdekat, hilang nya seseorang dari muka bumi ini pasti meninggalkan duka bagi keluarga dan teman-temannya. 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana 'jika' ada keluarga dekat saya yang meninggal. Orang yang setiap hari ketemu, setiap hari berinteraksi, tiba-tiba hilang. Hilang nya bukan karena pindah atau jauh tapi karena dikubur di bawah tanah. Memikirkan nya saja kadang bikin serangan panik, dan cara menghilangkan kepanikan itu dengan beristighfar dan bilang ke diri sendiri tenang-tenang-tenang. 

Lalu tadi malam aku juga barusan chattingan sama ci Phei, komen di instagram story-nya. "Loh, mamanya ci Phei kelahiran 65?" Kenapa bertanya? Karena berarti usia mama kita berdua hampir sama dong! Lalu saya berpikir lagi.. loh, 1966 itu masih dekat ya dari 1945? LOH LOH LOH. 

Betapa cepatnya waktu berlalu. Ternyata baru sebentar dari 1945 ke 2023. Belum ada 100 tahun Indonesia merdeka, belum ada 100 tahun berhenti melawan penjajah. Benar-benar seperti kata peribahasa, di dunia hanya mampir minum air. Ibarat tangan kita dicelupkan ke laut, laut itu adalah akhirat dan dunia hanya setitik air di ujung jari. Masyaallah, saya tiba-tiba panik.

Mungkin dengan sisa hal seperti ini saya bisa kembali refleksi dan berfikir dengan jernih, hidup itu hanya sementara.







Minggu, 08 Januari 2023

Membereskan Masa Lalu

Kemarin setelah euforia mutasi regional keluar, tibalah saatnya aku harus masuk ke kantor baru dan benar-benar meninggalkan kantor lama. Tapi sebelum itu aku harus membereskan apa yang sudah kumulai, alias membereskan berkas-berkas lama. Semua 'dosa' ini harus diselesaikan atau dihancurkan supaya saat pindah ke kantor yang baru aku bisa tenang. Lagi-lagi ketenangan yang saya cari.

Dan ini adalah sudut-sudut ruangan yang selalu aku lihat setiap hari selama dua tahun:

#1  Di sini adalah bagian pertama yang kulihat saat masuk ke dalam ruangan. Ada meja kak Oca, dan dibaliknya adalah mejaku. Biasanya kalau aku berangkat agak siang, hal pertama yang kulakukan adalah melirik ke meja bos apakah beliau ada di tempat atau tidak.



Jumat, 06 Januari 2023

Guud Bye!

Well, saya sudah cerita tentang permutasian beberapa minggu lalu yang mengguncang kantor kami. Pola mutasi yang bisa dibilang random (tapi beberapa sudah diprediksi) ini memang membuat saya ikut ketar-ketir, kalau-kalau saya juga entah kemana ikut mutasi. Mengingat dengan masa kerja saya yang sudah terbilang lama dan masuk dalam kriteria untuk 'dimutasikan'. 

Saya bilang berkali-kali ke Tata, "Kalau bisa sih aku nggak mutasi keluar pulau ya. Ribet nyari kosan lagi, ribet harus ninggalin anabul dan packing-packing wadoh." begitulah.


Lalu saat PENG mutasi itu rilis, akhirnya saya bisa bersorak "YUHUU!" sesaat karena akhirnya mutasi ke kantor sebelah. Lagi-lagi satu kantor sama Tata. Dia bilang, "Dipisahkan oleh SK dan dipersatukan kembali dengan SK." Kalau dipikir-pikir ini lawak juga. Hari itu saya sudah curhat-curhet dan selalu dibalas "Mari bergabung dengan kami." oleh Tata, eh siang itu beneran kejadian. Thanks God. 

NAH sekarang problemo baru muncul. 

Rabu, 30 November 2022

Detik-Detik Menuju Mutasi

 I had told you a million times. Kita akan pindah pada waktunya. 

Jadi hari tadi sore grup whatsapp tiba-tiba rame. Ada beberapa kemungkinan penyebab grup itu rame; ucapan selamat ulang tahun yang nggak berfaedah dan menuh-menuhin chat, ucapan turut berduka cita, PENG mutasi, atau ada yang nggak sengaja kekirim foto nude. Nggak, yang terakhir itu canda.

Yeah. Akhirnya pengumuman mutasi keluar. Mungkin ada orang yang sudah menunggu-nunggu pengumuman ini tapi ada juga yang terkejut. Tapi sepertinya kebanyakan orang lebih terkejut apalagi pengumuman pelaksana, AR, dan penelaah keberatan keluar secara bersamaan di satu PENG. Ini belum pernah saya alami selama bekerja. 

I mean, selama ini kalau mutasi pelaksana ya antar kota atau kantor wilayah. Saya belum pernah mendengar secara bedhol desa mutasi pelaksana sampai lintas kota lintas pulau. 

Banyak teman-teman saya angkatan 201801 yang mutasi juga. Kebanyakan pindah ke daerah ibu kota, Jakarta. Entah itu di kantor pelayanan nya atau di kantor pusat. But mostly in Jakarta. Sebagai teman yang baik dan sportif tentu saja saya memberi mereka selamat, entah bagi mereka itu anugerah atau musibah tapi yang penting namanya ada di PENG ya.. Kasih selamat dulu. 

Tapi ternyata orang-orang punya respon yang berbeda dengan mutasi kali ini. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang bingung, ada yang biasa saja. Paling tidak terduga ketika ada rekan kerja yang tiba-tiba mutasi ke Palembang, padahal homebase nya sudah di sini (Tanjungpinang). Beliau tidak punya saudara di sana dan tidak memilih kota itu pada saat survei pemilihan kota. Aneh kalau kata orang-orang.

But life must go on,  meskipun sulit dan sambil menangis tapi kamu harus tetap melanjutkan hidup dan tidak menyerah pada keadaan. 

Teman-teman saya pergi dan saya masih di sini. Sebetulnya saya merasa sedih, karena ditinggalkan tapi saya juga ikut bahagia ketika mereka juga bahagia. Semua orang punya target hidup masing-masing dan saya sebagai orang ‘asing’ cukup menjadi penonton dan memberi dukungan saja. 

Kalau ditanya harapan saya apa? Mungkin saya ingin mutasi yang dekat-dekat saja, masih di pulau ini dan masih di Rumah Sawi. 

Demi Kynos.







Kamis, 10 November 2022

Sing Sabar Bos..

Sebetulnya semua pekerjaan pasti pernah membuat judeg. Pekerjaan apa pun itu, yang menyenangkan atau yang sesuai dengan passion kita pun pasti ada titik dimana kita “HASSH MBUH LAH AKU PEN RESIGN WAE!”. Kecuali kamu memang orang yang workaholic atau memang sangat mencintai pekerjaan secinta itu love sampai mati. 

Hari ini saya melihat sendiri bagaimana anger management dan pengendalian emosi itu sangat penting dipelajari oleh seorang makhluk hidup terutama manusia, yang sedikit-sedikit misuh, sedikit-sedikit menyalahkan. Jujur saja saya juga bukan seorang sufi atau orang yang memiliki jiwa tenang. Biasanya kalau saya marah yang pertama dilakukan adalah menunjukkan ekspresi tidak suka, mengernyitkan dahi, dan bergumam “pekok tenan.”, lalu marah dan paling pol saya menangis di keheningan dan menulis unek-unek saya di buku. 

Mungkin karena saya wanita jadi terlihat lebih bisa mengendalikan emosi, padahal ya nggak juga. Waktu masih teenager dan alay, saya pernah kok marah-marah sambil membanting barang, kabur naik sepeda, merusak barang, dan mencoret-coret kertas. Tapi itu dulu sebelum saya berkepala dua *ehek* jadi lebih mature dan sadar diri, idih alay banget lo marah-marah gajelas kayak kerasukan kambing gila.

Siang ini saya sedang tenang bekerja di kubikel dan fokus mengerjakan tugas, tiba-tiba dari ujung ruangan terdengar suara keras “BRAKKK!” begitu. Saya pikir ada yang nabrak meja atau lemari. Orang seloyo apa yang sampai nabrak meja sekeras itu, kupikir. Lalu ‘dia’ berjalan dengan penuh emosi sambil meninju entah memukul atau menghempaskan tangan nya ke pintu keluar. Suaranya lebih keras dari ‘brak’ yang pertama. Sukses membuat saya dan orang-orang di ruangan kaget dan terdiam sesaat (sebelum akhirnya bergosip tentu saja). 

Kenapa harus begitu sih? Kamu alright kah?

Saat orang marah itu pasti karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak sesuai dengan kemauan nya. Well, untuk masalah yang ini kamu tidak bisa memaksakan kehendak orang lain. Ketika orang itu bilang ‘tidak’ ya artinya kamu harus memahami kenapa dia tidak mau. Kamu harus sadar dan eling kalau kemarahan sesaatmu akan dikenang dan akan jadi topik yang memalukan. 

Yang paling menganggu adalah jika pelampiasan marah itu adalah aksi ngawur yang merusak fasilitas umum dan mengganggu orang lain. Kamu boleh marah, kamu boleh emosi di tempat kerja, tapi posisikan marahmu dengan benar wei. Saya nggak tahu misal dia di rumah sedang ada masalah, kalah main game, atau karena kran airnya mati, atau karena bensin nya habis. Semua kemungkinan di luar pekerjaan yang membuat emosinya tidak stabil dan campur aduk, seharusnya dikesampingkan dulu. Setidaknya untuk di kantor cobalah jadi profesional.

Sulit.

Tapi coba.

At least kowe ra kisinan nabok lawang koyo cah SD kalah dolanan kasti. 





Selasa, 21 Juni 2022

Hidup dalam Dunia Fantasi

Akhir-akhir ini aku lagi seneng banget membaca dan nonton (nonton ulang) film Harry Potter. Menurutku itu adalah my comfort film. Kalau ada waktu dan ingin menghabiskannya dengan berfaedah versiku, pasti langsung deh kubuka HBO dan langsung pilih Harry Potter. Aku juga mulai untuk membaca bukunya, untuk pertama kali dalam hidup. Karena selama ini aku hanya menikmati film nya saja dan tidak pernah tamat membaca novelnya.

Fantasi selalu jadi pelarian paling menyenangkan buatku. Film, buku, atau musik yang ujungnya fantasi selalu membawa kegembiraan dan ketenangan. Harry Potter salah satunya. Orang pikir mungkin aku ketinggalan jaman dan nggak punya referensi buku selain Harry Potter, tapi aku nggak peduli toh aku enjoy banget tenggelam dalam petualangan Harry dan kawan-kawan.

Sekarang aku baru sampai di buku kelima. Agak ragu untuk melanjutkan karena tahu bakal banyak tokoh-tokoh favoritku yang mati, salah satunya Sirius Black. Memang aku tipe orang yang tidak ingin sedih dua kali. Ingat pernah nonton film The Boy in the Striped Pyjamas dan janji nggak bakal nonton film itu lagi selamanya. Terlalu sesak untuk diingat-ingat, terlalu sedih untuk ditonton kembali. Berhari-hari setelah nonton film aku akan melamun sambil WHY WHY WHY sendiri. Menyesali plot, meratapi ending, dan mengutuk sutradaranya.

In my quarter life crisis aku tidak ingin membandingkan hidupku dengan orang lain, tidak ingin berharap pada orang lain, tidak ingin ikut-ikutan orang lain karena ini hidupku yang hanya satu kali dan akan kumanfaatkan dengan baik. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari lalu menyalahkan orang lain karena kebodohanku. Jadi tidak masalah jika jalanku berbeda dengan mereka. Aku berusaha menerapkan ini sekarang di kepalaku supaya segalanya menjadi lebih enteng dan tidak menuruti tuntutan masyarakat.

Hidup sebaik-baiknya bukan berarti hidup sesukanya. Tetap berada di jalur yang terang dan selalu mengikuti perintah-Nya. Meskipun aku bukan orang yang alim, tapi aku selalu ingin memperbaiki diri, belajar agama, dan tidak jauh dari ajaran-Nya. Kadang aku ingin hidupku seperti tokoh di buku atau film yang bisa melakukan segalanya sesuai dengan genre. Aku ingin hidupku punya genre fantasi yang penuh dengan warna dan petualangan, tapi itu berakhir dengan membosankan di balik meja kerja. 

Ini adalah dunia nyata yang kalau kamu mati tidak bisa hidup lagi meskipun dengan sorcerer’s stone, ya kecuali kalau mati suri. Selain nyawa, bekerja dan mencari uang juga hal yang harus dilakukan manusia agar bisa hidup dengan layak dan tidak menyusahkan orang lain. Kalau Harry anak yang hidup setelah melihat hal mengerikan 一setelah melihat orang tuanya di-avada kedavra oleh Voldemort, juga mengalami hal tidak layak karena belum menemukan tempatnya di dunia sihir. Setelah Harry sadar dia tidak seharusnya hidup di tengah-tengah muggle, dia pun mendapat hidup yang ‘dikira’ orang menyenangkan. Dia terkenal, punya bakat, selalu beruntung, punya barang-barang sihir antik, dan yang terpenting adalah dia punya teman-teman yang suportif.

Apakah hidupku sebenarnya seperti Harry juga?

What if I do not belong here?

Where then? 






Minggu, 07 November 2021

Suasana Baru atau Masalah Baru

Wah ternyata sudah delapan bulan aku ada di seksi ini. Seksi yang (dulu) paling rame dan rusuh. Entah karena kutukan atau memang sebuah kebetulan, tapi sejak aku pindah ke sini ‘oknum’ yang membuat ramai ruang pelan-pelan (tapi pasti) mulai pindah. Ada yang pindah ke seksi lain, kantor lain, bahkan pulau lain. Jujur, ini lebih baik daripada harus bekerja dengan suasana ruangan yang berisik dan tidak kondusif. Apalagi kemarin posisi duduk-ku ada di tempat yang terlalu strategis jadi semua orang yang lewat, mau ambil makanan, ambil minum, pasti akan auto-nengok ke mejaku. Kalau membuka pintu ruangan aja, langsung yang pertama dilihat adalah aku. Wadoh. Kurang nyaman lah.

Gambar Ilustrasi Denah Ruangan

Setelah banyak tempat duduk yang kosong, akhirnya aku memilih untuk pindah ke sebelah kak Ety. Tempat yang menjadi banyak incaran karena bebas dari pantauan masyarakat sekitar. Pokoknya meja yang mepet tembok itu lah meja yang paling aman dan nyaman. Persis seperti mejaku dulu di seksi yang lama. Langsung menghadap ke pintu masuk, jadi siapa yang masuk, siapa yang keluar kita pasti tau dan dengar. Plus nya kalau ada pembicaraan di ruangan bos pasti terdengar karena jaraknya hanya sedekat nadi.

Karena banyak yang pindah/mutasi, pasti lah banyak yang masuk untuk mengisi kekosongan ini. Salah satu orang nya adalah seseorang yang 'problematik'. Bukan cuma aku yang bilang begini. Setiap orang pasti pernah punya problem dengan dia, entah disengaja tau tidak. Mungkin itu hobinya, ribut dengan orang lain.

Kalau ditarik ke belakang tentang problem apa yang pernah terjadi antara kami, rasanya aku ingin menghapus dia dari bumi ini. Tapi sebagai rekan kerja dan salah satu sikap profesionalisme, aku harus tetap ramah dan menganggap segalanya telah berlalu. Meskipun kuyakin dia juga memendam hal yang sama. Mana mungkin orang seperti dia begitu saja melupakan kesalahan orang lain, dan begitu pula denganku yang sifatnya memang mengingat hal yang mbiyen-mbiyen. Nggak baik, sudah berusaha dikurangi, tapi mohon maaf sepertinya memang butuh waktu yang cukup lama. Sabar.

Kalau aku pernah ngatain temanku aneh, nah, dia lebih aneh lagi. Nggak ada yang bisa membaca, mengira apa isi kepalanya. Apa yang dilakukan sesukanya, terserah dia. Orang pun malas untuk terlibat, karena salah-salah bisa jadi salah. (loh). Lebih baik menghindar daripada kecebur got, kan?

Balik lagi ngomongin ruangan yang mendadak jadi sepi (bagi mereka). Kalau bagiku sih enjoy aja dengan suasana yang sepi, kondusif, tidak ada bunyi-bunyi aneh, atau suara mendesah nya Arini. Arini adalah salah satu biang ribut di ruangan. Sedih juga dia pindah ke lantai atas, jadi agak canggung ruangan ini. Suatu hari dia bilang, “Ih kok jadi sepi banget ruangan itu? Aku nggak suka.” Batinku, kenapa kau yang nggak suka, kau pun dah nggak ada di bawah sini.

Sebenarnya aku baik-baik saja dengan suasana ruangan yang rame, ribut, dan bar-bar. Asalkan aku masih punya ruang privasi dan tidak mengganggu. Tapi memang suka nggak ingat waktu. Okelah kalau sore menjelang pulang, atau siang menjelang isoma. Kadang mereka jagongan di satu meja sampai orang lain tidak bisa lewat, apalagi aku ya kan, yang badan nya agak sesak jadi butuh jalan yang lapang. Aku harus misi-misi dulu supaya bisa melewati mereka, untung nggak dipalak.

Awal-awal di sini ketat banget bu bos mengawasi aku. Dikit-dikit ditelpon, lagi boker pagi pun pernah ditelpon. Panggilan alam ini kan tidak bisa dijadwal. Oh tai, datanglah nanti jam setengah tiga, gak bisa lah! Kadang juga ikut-ikut merecoki orang lain yang sebenarnya nggak tahu aku lagi dimana, tapi tetap ditelpon karena dia menuntut dan mengira kalau orang itu tahu.

Apa ya, tempat ini banyak suka dan duka nya. Waktu awal memang aku sering banget dapat disposisi yang harus dikerjakan, sampai aku bingung mau ngerjain yang mana dulu. Setelah dibuat prioritas akhirnya kelar juga. Sekarang saat ‘anak baru’ datang, sepertinya pekerjaan sudah dibagi rata & anak baru itu juga merasakan sepertiku, menerima banyak dispo. Enjoy that shits.

Mengenai teman-teman yang pindah, aku sebenarnya sedih. Ada sedikit rasa kosong, takut ditinggalkan, dan juga menjadi galau. Mungkin bukan orang yang yang sebenarnya kurindukan atau bahkan ingin kutahan, tapi momen-momen yang sudah dilewati bersama itu agak sulit untuk dilupakan. Rasanya aku ingin menahan mereka dan bilang, “Jangan pergi, tunggu dulu sebentar lagi.” JIAKHHH.

Namun kita semua harus tegar. Bukan hanya aku yang merasa sedih, pasti mereka juga sedih. Jauh lebih sedih malah, karena harus meninggalkan tempat (yang mungkin) sudah settle. Meskipun ada juga yang merasa bahagia karena bisa meninggalkan kota terpencil ini dan pindah ke kota yang hiruk pikuk nya lebih terasa. Ini semua tergantung dengan masing-masing pribadi.

Seksi ini akan menjadi sebuah tempat yang hening menjadi tempat yang penuh dengan ilmu dan juga pekerjaan. Aku senang karena di sini bisa melakukan ST. Di seksi lama aku tidak pernah dapat ST sebab memang tidak ada pekerjaan yang mengharuskan ST. Sungguh disayangkan, padahal aku suka sekali pergi-pergi dan mengulik kehidupan orang lain.

Gimana ya, ini semua bukan hanya masalah senang/sedih, tapi kita sendiri yang memandang dari sudut pandang yang mana. Semua itu fleksibel dan bukan menjadi penentu. Di dunia ini kita semua adalah supir. Mau dibawa mobil ini, ya tergantung kita sendiri. Wedeh, permisalan yang agak maksa tapi nggak apa-apa, nanti kita coba lagi di lain kesempatan.

Untuk sekarang aku sedang menikmati masa-masa bekerja dan mempersiapkan mental untuk kuliah lagi tahun depan. Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. Jangan pernah melupakan bahwa kita juga manusia yang butuh recharge sebelum benar-benar mati.





Selasa, 01 Juni 2021

Ngomongin Film : A Quiet Place II - Diam saja tidak Cukup

Setelah menanti kurang lebih dua tahun akhirnya film A Quiet Place part II tayang juga di Indonesia. Saya termasuk orang yang menantikan nya sejak akhir tahun 2018, berhembus kabar kalau A Quiet Place akan dibuat sequelnya. Ya tentu saja harus dibuat! Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di film pertama.

Dulu saya nonton film ini bersama teman latsar di saat pesiar (sebutan free time di masa diklat). Kami bingung mau nonton apa, sementara hasrat ingin membuang uang sudah menggebu-gebu, rekening kami lagi gendut-gendutnya. Saya sih ngikut saja karena memang nggak kepikiran akan nonton film, yang ada di dalam kepala saya waktu itu pokoknya mau liburan, senang-senang, dan menghamburkan uang.

Ternyata film nya bagus banget! Nggak ada dialog, sepi nyenyet, tapi seramnya kerasa banget sampai bulu kuduk merinding dan saya berkali-kali menjerit. Ahhh.

Pertanyaan pertama yang muncul adalah dari mana monster itu berasal? Apa tujuan monster itu membunuh orang-orang? Dan dimana manusia lainnya?

Sabtu, 03 April 2021

Ndok Sendok!

Selamat pagi, yep! 

Gimana? Apakah saya harus update cerita setelah kurang lebih satu bulan ada di seksi "baru"? Iya dong! Masa enggak. Yah, itung-itung saya sambil mengurangi stres dan tekanan batin, di mana lagi saya bisa cerita macam-macam panjang kali lebar? di blog kesayangan ini tentunya.

Setelah satu bulan di situ, saya merasa Wah kerjaan nggak habis-habis ya. Bukan berarti dulu saya nggak ada kerjaan, ngomong begitu tak tapok lambemu. Maksud saya, berkas datang terus, mengalir seperti air. Belum lagi permintaan dan dari bu Bos yang suka datang tiba-tiba, rapat pembinaan tiba-tiba, dan yang paling menjengkelkan adalah kerjaan diluar tusi.

Dulu pekerjaan saya ritme nya laporan, pengaduan, dan mengolah data. Dilakukan setiap tiga bulan sekali, seminggu sekali, dan yang setiap hari ada walau sering nya numpuk karena cuma satu orang yang ngerjain, yaitu saya. Kalau sekarang, pekerjaan lebih dinamis, semua harus bisa, dan paling nyahok kalau dapat berkas jatuh tempo dari seksi lain. Itu kadang membuat diri ini yang punya janji dengan orang lain suka tiba-tiba bisa batal.

Gimana kalau berkas turun di jam 15.45, itu seharusnya saya sudah siap-siap untuk pulang. Bukan nya masih wira-wiri untuk menggarap. Yaiks. Itu yang harus saya "waspadai" setidaknya mending saya ngilang aja kalau pas jam-jam rawan seperti itu.

Ada satu kejadian yang membuat saya jadi melongo bingung, sedikit tertawa, dan jadi ilfeel. Sekarang tempat kerja saya tuh bising, banyak banget polusi suaranya. Mulai dari rekan kerja yang ketawa-ketiwi dan ngobrol brisik nggak ngotak, suara mesin shredder, suara mesin print & fotokopi, atau dari orang yang bicara ngelantur aja. Makanya saya mending kalau sedang mode kerja pasti pakai headphone supaya terhindar dari gangguan-gangguan syaiton seperti itu. 

Nah, tiba-tiba bu Bos nih njawil saya. Oh ya otomatis saya langsung nengok dan nyopot tuh headphone. "Iya ada apa bu?". Lalu bu Bos bicara, tapi nggak jelas. Mungkin karena saya masih peralihan dari nyopot headphone lalu kembali ke dunia nyata yang amis ini jadi suara yang masuk juga samar-samar. Beliau meminta sesuatu ke CS (cleaning service), karena jujur banget saya nggak denger beliau ngomong apa dan sudah mengulangi pertanyaan dua kali, jadi nggak enak lah. Maka, dengan cerdasnya saya menginterpretasikan apa yang beliau minta dengan gerakan tangan dan situasi yang ada saat itu. Kebetulan galon di ruangan habis, jadi mungkin itu yang diminta.

Akhirnya dengan legowo saya ke CS dan bilang kalau galon nya habis. Setelah lima menit duduk dan kembali melanjutkan pekerjaan saya, bu Bos datang lagi dan bertanya "Udah belum?". Ya saya jawab, "Sudah bu, itu barusan diganti." Kemudian dia kecewa. "Bukan, bukan galon. Tadi saya minta sendok." 

Piye?

Baleni meneh.

s e n d o k.

Ah kamu pasti bergurau ya.

Tapi ternyata tidak gais, pendengaran saya masih baik-baik saja walaupun sering blunder, tapi yang ini beneran. Walaupun jadinya juga blunder dari sendok menjadi galon. Untuk bang CS nya masih ada di ruangan, jadi dia yang ngambil sendok.

Untuk sejenak saya tertawa dengan kebudegan ini, tapi kemudian saya jadi jengkel. HEY! Sing meh madhang kowe, kok aku sing kon nembung sendok? Opo mergo aku pelaksana dan bawahanmu, jadi bisa seenaknya ngakon ini-itu? Oh waw, harga diri saya.

Kok bu Bos sungguh bossy gini. Untuk hal yang seharusnya bisa dilakukan sendiri loh. Ruangan CS itu ada di lantai yang sama, saya tidak sedang nganggur, saya sedang bekerja mumet dan serius, saya paling nggak suka sebenarnya kalau diganggu padahal saya sedang fokus gini. HAH. Besok lagi, kalau ada permintaan yang nggak mashok gini, mending tak tolak saja.

Sebenarnya peristiwa seperti ini tuh sudah pernah diceritakan sama temen-temen. Tapi ah ya sudah lah, berdoa semua bukan saya yang kena terus. LOL. Kampret.

Kalau saya disuruh cepat menyimpulkan dari kebiasaan beliau yang suka menyuruh-nyuruh orang lain sesuka hati karena tahta nya lebih tinggi, well, itu penyakit kronis nggak sih? Saya kalau dikasih kekuasaan seperi itu belum tentu bisa menahan nya. Yah, kalau bisa duduk diam santai-santai, kenapa harus gerak sendiri ya kan?

Cuma.. apa ya pantes? Kalau saya kok ya malu. Sendok buat makan sendiri saja masa harus nyuruh orang lain buat ngambilin?

Kebetulan, memang penataan peralatan makan dan minum di ruangan itu agak berantakan. Lagi pula saya juga nggak mau *kalau nggak terpaksa* untuk naruh gelas di sana, karena pasti ilang. Entah karena ibu-ibu CS yang bertugas nyuci, atau karena ketuker dipakai orang lain.

Bleh.

Bawa dari rumah, lalu dibawa pulang lagi saja :) hhehe



Diagnosa yang terlalu dini, Alzeimer?

Hi guys~ Selamat datang kembali ke blog amatir ini. Terimakasih sudah meluangkan waktu kalian untuk bergabung dengan gue disini, menuli...