Kemarin (01/11) aku join lagi agenda Ruang Bergerak Vol. 1 masih dalam agenda komunitas Ruang Riung. Acara kali ini bertema Colour Walk—jalan-jalan sambil mencari warna yang diburu. Acara dimulai dari Bento Kopi Tasikmalaya jam 07:30, finish juga di tempat yang sama sekitar pukul 09:55. Di sepanjang jalan yang pendek itu—kurang lebih 2 km—kami berjalan dengan riang sambil mencari objek atau benda sesuai dengan warna yang kita harus dapatkan.
So happy. Aku selalu pulang dengan insight baru, dengan hati yang lebih ceria terutama saat emosi dan amarahku sedang memuncak. Rasanya bertemu dengan komunitas yang positif—terlalu positif malah—membuat rasa marahku berkurang bahkan seperti menghilang untuk beberapa jam. Mereka lucu, kami tertawa, makan, dan mendengarkan dengan baik pada setiap orang yang berbicara.
Ada beberapa anggota baru yang masih malu-malu, tapi pada akhirnya kami semua bisa berbaur dengan baik. Wajah-wajah yang kulihat kembali ada Sri, Dika, Nanda, Riska, Resti, Azmi, dan Akmal. Kami ngobral-ngobrol sampai jam 12:30. Yang paling seru itu kami mengirimkan pertanyaan anonymous dan semua orang/salah satu orang bisa menjawab, dan itu yang membuat lupa waktu. Tahu-tahu sudah jam 12:00 dan kami harus segera menutup agenda hari itu. Acara ditutup dengan berfoto dengan 3 jari. TURUNKAN BUNTED!
Meskipun rute yang dilalui sangat singkat tapi lumayan, aku bisa menghasilkan 4.000 langkah dan bersenang-senang. Semoga di pertemuan selanjutnya yang bergabung jauh lebih banyak. TBL si Dika bilang begini, “Aku penasaran banget loh kak sama zumba, itu bisa untuk cowo kan? Kapan-kapan kita zumba bareng ya?” Aku hanya tertawa awkward. Kukasih goyang kewer-kewer nanti. HAHHAHAHAHA.
Di momen refleksi—basically we just sit and talk—banyak kisah dan cerita baru. Ada beberapa pertanyaan dan jawaban dari teman-teman yang membuatku mangut-mangut. Oh ternyata begitu. Contohnya saat sesi pertanyaan anonymous , “Apa yang harus aku lakukan jika chatku ke crush sudah tidak dibalas dalam jangka waktu satu minggu (atau satu bulan aku lupa)?”
Akmal menjawab kurang lebih begini, “Ini jawabanku dari sudut pandang cowo ya, menurutku artinya dia nggak mau. Contoh lah aku. Aku jauh loh dari Ciamis, kenapa mau ke Tasik cuma mau ikut Riung ini? Karena mau. Apapun kalau memang ‘mau’ pasti diusahakan. Sesibuk apa pun, pasti datang, pasti akan jawab.” Jawaban yang cukup menyadarkanku bahwa kita bisa menilai effort seseorang. Dan ‘orang itu’ tidak ada effort-nya, bajingan.
Ada juga pertanyaan, “Jika kamu ada di pertigaan dan harus mengambil satu belokan kanan atau kiri, bagaimana kamu bisa tahu itu adalah pilihan yang tepat?”
“Aku kemarin barusan membaca sebuah buku. Di buku itu ada paragraf yang mengatakan, semua pilihan yang kita ambil itu pasti ada penyesalan. Tapi tergantung penyesalan itu besar atau kecil. Bisa saja pilihan A lebih sedikit penyesalannya dan kita menjadi lebih bersyukur untung memilih itu. Atau ketika kita memilih B yang penyesalannya lebih banyak sehingga kita merasa merugi. Semua opsi itu ada penyesalan. Jadi itu semua tergantung bagaimana kita sebagai pelaku memaknai itu. Poinnya adalah, ketika penyesalan itu datang jadikan lah sebuah pembelajaran dan kamu tidak akan larut dalam penyesalan tadi,” jawab kak Astri. Dia adalah member baru yang tiba-tiba ikut karena ada waktu luang saat di Tasikmalaya.
Super sekali! Applausa!!
Lagi-lagi jawaban-jawaban seperti itu membuka mata dan mengingatkanku untuk selalu sabar, tabah, dan stay positif menghadapi kejadian-kejadian janggal dalam hidupku. Di dunia ini yang menderita bukan hanya aku, ada banyak orang di luar sana yang punya masalah mungkin lebih berat dariku. Hanya saja aku adalah orang terpilih yang menerima nasib ini. Terima saja, dan hadapi dengan senyuman (walau kadang senyum kecut). Gampang bgt ngomongnya.



.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TERIMAKASIH THANKS AND GOMAWO