Minggu ini (25 Oktober 2026) aku keluar dari zona nyaman. Aku menyeret jiwa introvert ini untuk melakukan aktivitas lain selain berleha-leha di kosan. Terus terang aku sangat betah jika disuruh untuk stay at home—apalagi kalau disuruh jadi stay at home mom yekan—dengan segala macam kegiatan yang bisa kulakukan. Tetapi aku berani mengambil langkah untuk bertemu dan berkumpul dengan orang baru. Walau mules-mules dikit.
Kegiatan ini adalah Ruang Bercerita Vol. 1 “Stranger to Stories” yang diselenggarakan oleh Ruang Riung (@ruangriung.idn) dan berlokasi di Alchemist Cafe, Tasikmalaya. Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda tapi memiliki tujuan yang sama—ngariung atau duduk-duduk bersama.
Seperti yang sudah kusebutkan di awal, aku mencoba keluar dari zona nyaman. Aku yang tidak mudah bergaul dan membuka diri dengan orang lain, dengan kegiatan ini berusaha untuk menjadi orang yang lebih ceria. Rasanya memang beda ketika harus ngobrol dengan orang yang besok kita ketemu lagi, dan dengan orang yang benar-benar asing bahkan mungkin kita nggak akan ketemu lagi. Aku merasa lebih loss dan masa bodoh dengan reaksi mereka. yolo.
Acara dimulai dengan perkenalan dipimpin oleh Dika—salah satu pegiat Ruang Riung, kemudian dilanjutkan dengan agenda utama yaitu bercerita yang tema atau topiknya dipancing oleh Dika dengan alat bermain balok jengga. Topik yang ditanyakan Dika padaku adalah tentang bagaimana awal mula aku bisa memelihara kucing dan siapa kucing pertama yang kupelihara? Pokoknya tentang anabul. Dika membuat pertanyaan (riset dia cuy) dari sosial media yang sudah kami lampirkan di tautan registrasi.
Setiap orang mendapat pertayaan yang berbeda-beda tergantung apa yang menarik bagi Dika dari sosial media kami. Ada yang ditanya tentang hobi, 13 pekerjaan, kesibukan, olahraga favorit, buku favorit, bisnis, dan lain-lain. Aku sebetulnya berharap pertanyaan yang lebih deep seperti, ‘Apa yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini?’. Hahahahaha
Untuk aku yang agak sulit mengingat nama orang, aku sepertinya berhasil mengingat nama-nama mereka;
- Dika si pembawa acara yang talkactive.
- Hana si penikmat fying fox. Ternyata kami pernah ikut workshop yang sama sebelumnya.
- Eli si graphic designer yang sedang mencari jati diri dan jalan hidup.
- si MUA yang menikmati hidup.
- Pasha si konten kreator buku dari Ciamis. Dia punya banyak rekomendasi buku untuk dibaca.
- Akmal si photographer yang sibuk juga menjadi graphic designer. Dia sepertinya masih muda, habis lulus SMA atau masih kuliah.
- Azmi si jago statistik yang kerja di Dinas tapi punya sampingan jasa olah data. Dia sepertinya orang yang suka matematika.
- Arif si pemilik 13 pekerjaan. Sibuk dan kelihatan pekerja keras.
- Tya si nggak bisa diam. “Aku kalau hari ini kerja dari jam 8-3 sore, nah jam 4 nya aku bingung kalau nggak ada agenda.” Protokoler handal.
- Widi si perintis usaha manset adem.
- Salma. Itu aku. WKWKKW
- Nanda si lentur jago pilates.
- Dini si hobi hiking dan tracking.
- Sri si pintar yang jago bahasa arab.
- Resti si copywriter Kim Jiwon.
Alhamdulillah aku bisa mengingat mereka dengan baik. Walaupun next tidak yakin bisa ketemu lagi atau tidak, tapi setidaknya mereka pernah singgah di memoriku.
Hal yang membuatku heran adalah di sana kami tidak bicara tentang usia. Umur kami adalah misteri seperti keadilan di negeri ini yang masih tersembunyi. Tapi kalau dilihat-lihat dari cara bicara dan gelagatnya, mungkin aku lah tante-tante itu. Aku lah yang paling tua dengan segudang masalah. wkwkkw. Canda. Tante juga bisa kok belagak seperti anak muda, gini-gini aku masih genZ loh, genZ jompo.
Rata-rata tujuan mereka datang ke komunitas ini adalah untuk mencari relasi baru. Siapa tahu bisa menjadi jembatan untuk rejeki, koneksi, dan mutual. Lalu aku khawatir jika tujuanku di sini jadi nggak asik, karena tujuanku benar-benar murni untuk keluar dari zona nyaman dan mencari teman baru. Kalau jaman sekarang sih pertemanan itu take and give, dan pasti ada benefit nya (friend with benefit). Kalau tidak bermanfaat lebih baik tinggalkan. Kalau tidak bisa membuatmu jadi lebih maju, tinggalkan. Kalau menularkan energi negatif, tinggalkan.
Fenomena komunitas seperti ini tuh ternyata banyak di kota lain. Mungkin karena sekarang sudah sulit untuk berteman dan berkenalan secara ‘organik’. Kita pasti sudah sibuk berkenalan lewat online, sosial media, atau aplikasi. Jadi pertemanan organik seperti ini memang dirindukan oleh insan sosialis
Bedanya aku sudah melewati fase pertemanan organik seperti itu ketika masih bocah. Aku juga melewati fase perkenalan ghoib (online dll). Jadi aku bisa merasakan mana yang paling efektif untuk hidupku. Pertemanan online jauh lebih berbahaya, tapi pertemanan organik juga tidak selamanya menjamin akan lebih erat. Jadi baiknya kita gabung saja, kopi darat teman dari online lalu cut off kalau di real life nya bikin ilfeel parah. Itu saran dari tante, saran yang lebih baik kamu simpan sendiri.
Oke bye~ Semoga bisa join di lain kesempatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TERIMAKASIH THANKS AND GOMAWO